Perbedaan Perusahaan Startup dan Perusahaan Konvensional

Oktober 31, 2021

perusahaan startup dan perusahaan konvensional

Istilah startup sering didengar oleh banyak orang. Startup berarti bisnis yang baru saja dirintis atau baru saja didirikan. Tetapi saat ini startup lebih diartikan suatu perusahaan yang merintis dan menjalankan bisnisnya dengan berbasis teknologi.

Perusahaan yang disebut startup biasanya merupakan perusahaan yang baru saja didirikan dan berada pada fase pengembangan atau penelitian untuk menemukan pasar demi produk dan jasa yang ditawarkan.

Saat ini semakin banyak startup yang bermunculan di Indonesia. Apalagi dengan tersedianya kecepatan internet yang semakin mumpuni, tentunya hal tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kemunculan dan lancarnya perusahaan startup dalam menjalankan bisnisnya yang berbasiskan teknologi online. Sebagian perusahaan ini disebut dengan istilah startup unicorn, bahkan mulai terdengar istilah startup decacorn.

Dikutip dari Kompas TV, sebuah usaha bisa disebut startup jika memiliki kriteria yaitu adanya founder, investor, dan produk atau layanan. Startup menjadi kategori unicorn apabila nilai korporasinya lebih dari 1 Miliar Dolar AS atau setara Rp. 14 Triliun. Kemudian untuk kategori decacorn mencapai 10 kali lipat dari kategori unicorn yaitu sekitar 10 Miliar Dolar AS. Sejumlah startup Indonesia sudah mencapai kategori unicorn bahkan mendekati kategori decacorn yaitu Gojek, Tokopedia, OVO, Bukalapak, Traveloka dan Shopee. Lalu apa perbedaan perusahaan startup dengan perusahaan konvensional?

 

Perbedaan Perusahaan Startup dengan Perusahaan Konvensional

Dari segi legalitas, perusahaan startup tidak berbeda dengan perusahaan konvensional. Semua berusahaan itu sama-sama berbadan hukum. Tetapi cara menjalankan perusahaan startup dan perusahaan konvensional memiliki ciri khas masing-masing untuk mencapai tujuannya.

Dari segi keuntungan, perusahaan startup lebih menghabiskan waktu untuk merancang model bisnis yang pas dan terus mencari pasar. Sehingga perusahaan startup ini lebih banyak menghabiskan modal di awal waktu perusahaan berdiri. Sedangkan perusahaan konvensional lebih berfokus untuk berbisnis dan segera mendatangkan profit.

Dari segi pendanaan, perusahaan startup hanya mengeluarkan dana di awal perintisan. Dengan model bisnis yang dibuat, perusahaan startup bisa menggaet investor dan mendapatkan dana yang sangat tinggi. Sedangkan perusahaan konvensional, pendanaannya juga bisa lebih dari satu sumber yaitu founder dan investor. Tetapi ketika dana itu cukup, perusahaan konvensional menentukan model bisnis yang bisa segera mendatangkan keuntungan, yang dimana keuntungan tersebut dijadikan modal untuk diputar kembali.

Dengan karakteristik masing-masing, perusahaan startup dan perusahaan konvensional tetap bisa berjalan dan mencapai kesuksesan. Karena apapun jenis perusahaan yang dijalankan, owner perusahaan harus mempunyai manajemen yang baik dari segi pengelolaan staff maupun pengelolaan keuangan.